Jakarta - Belum lama ini,
Asus resmi memboyong
ROG Phone
ke Indonesia setelah ponsel gaming tersebut pertama kali muncul di
Taiwan pertengahan tahun ini. Menariknya, ada ponsel gaming lain yang
turut diperkenalkan oleh Asus saat itu. Simak
review Asus Zenfone Max Pro M2 berikut ini.
Adalah
Zenfone Max Pro M2 yang dimaksud. Smartphone ini disebut sebagai ponsel gaming kelas mainstream. detikINET pun berkesempatan untuk menjajalnya. Berikut ulasannya.
Desain
Salah satu tren desain pada ponsel saat
ini adalah bagian belakang yang dapat memberikan pantulan cahaya
berbeda-beda, tergantung dari sudut penglihatan penggunanya. Asus juga
menerapkan desain ini pada bagian belakang Zenfone Max Pro M2.
Hanya
saja, Asus memilih untuk menggunakan material plastik ketimbang kaca
seperti kebanyakan ponsel saat ini. Pantulan cahaya yang dihasilkan
memang jadi kurang menarik, namun sisi positifnya sidik jari yang
tertinggal tidak terlalu tampak.
Di bagian depan, bezel-nya memang bukan yang tertipis, namun perangkat
ini terasa kecil untuk layer berukuran 6,3 inch. Hal ini terbantu dengan
hadirnya notch sehingga screen-to-boy ratio-nya bisa mencapai 90%.
Pada
bagian samping, ada bagian metal yang melapisinya. Selain itu, sudut
dari ponsel ini juga dibuat melengkung sehingga nyaman digenggam dalam
waktu lama walau tanpa casing tambahan, serta tidak licin.
Performa
Terdiri dari beberapa varian,
detikINET
kebetulan mendapatkan versi Zenfone Max Pro M2 RAM 4 GB dan ROM 64 GB.
Didukung dengan chipset Qualcomm Snapdragon 660, tidak ada kendala
berarti dalam menjalankan aplikasi, baik secara tunggal maupun dua
sekaligus.
Pada bagian layar, tidak terlalu banyak fitur yang
dihadirkan. Selain tidak ada pengaturan untuk menghilangkan notch, mode
malam dari layar ini masih dirasa terlalu terang saat digunakan di ruang
redup cahaya.
Minimnya pengaturan menjadi wajar mengingat
Zenfone Max Pro M2 mengadopsi Stock Android. Untungnya, ada bonus
storage 100 GB di Google Drive sebagai pelipur lara.
Meski
begitu, lain ceritanya jika bicara soal kualitas layarnya yang Full HD+.
Layar ini sanggup memanjakan mata, ditambah bisa menonton video di
YouTube pada resolusi 1080p.
Hal senada juga dirasakan pada
speaker. Suara yang dihasilkannya keras nan jernih. Juga ada pengingat
jika pengguna memasang volume terlalu tinggi ketika sedang memakai
headphone atau earphone.
Zenfone Max Pro M2 memiliki berbagai
pilihan dalam membuka kuncinya, mulai dari pemindai sidik jari hingga
wajah. Keduanya memiliki respons yang terbilang cepat. Bahkan, untuk
face recognition, terkadang ponsel sudah terbuka walau wajah belum
menoleh secara penuh ke layar.
Meski demikian, saat awal-awal
diaktifkan, ponsel cukup lama dalam merespons wajah pengguna. Lebih
lanjut, smartphone ini tidak bisa dibuka menggunakan foto saat fitur
pengenal wajah diaktifkan.
Bagi yang ingin sedikit nostalgia, layar Zenfone Max Pro M2 juga bisa
dibuka dan ditutup dengan mengetuk layar dua kali. Fitur tersebut sempat
menjadi tren sebelum menjadi kuno lewat kehadiran pemindai sidik jari,
face recognition, hingga in-display fingerprint scanner.
Tak
lengkap rasanya jika Zenfone Max Pro M2 tidak melewati tes dari platform
benchmark. Saat menggunakan AnTuTu, ponsel ini hampir menduduki 50
besar dengan nilai benchmark tertinggi di platform tersebut.
Gaming
Mengingat Zenfone Max Pro M2 disebut
sebagai ponsel gaming mainstream, tentu menjadi menarik bagaimana
merasakan bermain game menggunakan smartphone ini. Salah satu game yang
dicoba adalah Garena Free Fire.
Game tersebut sudah tersedia langsung di ponsel ini. Bahkan, wallpaper default dari smartphone ini pun juga bertema Free Fire.
Tidak
ada kendala berarti dalam memainkan game tersebut. Bahkan, ketika ada
notifikasi yang masuk, mulai dari chat hingga telepon, pemain tetap bisa
menjalankan seperti biasa. Begitu pun dengan game-game lain, seperti
PUBG, FIFA Mobile, hingga UFC.
Meski demikian, memang sedikit
disayangkan tidak ada mode khusus untuk menghilangkan notifikasi saat
bermain game hingga membersihkan RAM. Walaupun kelasnya mainstream,
Zenfone Max Pro M2 tetaplah ponsel gaming.
Selain itu, tidak
terdapat juga fitur untuk meredam rasa panas pada ponsel ketika bermain
game dalam kurun waktu yang cukup lama. Yang ada hanya fitur power
saving biasa ketika kapasitas baterai tinggal sedikit.
Baterai
Soal baterai, ponsel ini bisa bertahan
2-3 hari pada penggunaan normal. Dalam hal ini, tethering bermain game
juga termasuk, hanya saja intensitasnya tidak terlalu tinggi.
Jika
digunakan cukup intens untuk bermain game dan tethering baterai
kapasitas 5.000 mAh dari ponsel ini masih bisa bertahan sehari. Walau
begitu, untuk pastinya mungkin tidak tepat 24 jam.
Mengingat
kapasitasnya yang cukup besar, tentu butuh waktu yang tidak sebentar
juga untuk mengisi daya ponsel ini. Terlebih, tidak ada fitur fast
charging yang menyertainya.
Dalam keadaan mati, ponsel butuh
hampir tiga jam hingga terisi sampai penuh. Satu catatan, persentase
baterai saat diisi dayanya adalah 2%. Waktu yang hampir sama juga
berlaku saat ponsel dalam keadaan menyala.
Walau begitu,
disarankan untuk mengisi baterai ponsel ini dalam keadaan mati. Hal
tersebut lantaran baterai ponsel ini lebih terasa panas ketika diisi
dalam keadaan menyala.
Kamera
Kamera memang bukan aspek yang ditonjolkan dari Zenfone Max Pro M2. Meski demikian, siapa sangka jika hasilnya cukup bagus.
Bahkan,
satu nilai positif sudah terlihat begitu aplikasi kamera. Layar akan
memaksimalkan tingkat kecerahannya sehingga membantu pengguna untuk
mengambil foto. Begitu user ingin melihat hasil gambarnya, maka
kecerahan layar akan kembali seperti semula.
Walau begitu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Misalnya saat mengambil foto pada kondisi cahaya redup.
Saat
menggunakan mode auto, hasilnya sudah cukup terang, namun sumber cahaya
seperti plang lampu atau papan LED dapat mengganggu lantaran menjadi
terlalu terang. Jika banyak objek seperti itu, ada baiknya untuk
memainkan ISO atau shutter speed pada mode manual.
Bagi yang
doyan selfie, di sini ada beauty mode yang mampu memutihkan wajah
sekaligus menyamarkan jerawat hingga flek hitam. Satu catatan, beauty
mode ini juga membuat tone warna seluruh frame menjadi mengikutinya,
bukan hanya wajah saja, sehingga jangan memasangnya pada tingkat
maksimal, terlebih di ruang yang cahayanya cukup terang.
Sebagai penunjang, ada juga flash di bagian depan. Sayangnya, walau
cukup membantu, cahayanya terlalu terang dan kurang lembut sehingga
lumayan menyilaukan mata.
Untuk mode portrait, hasilnya cukup
bagus. Transisi antara objek yang fokus dengan latar yang blur tidak
terlalu mencolok. Pengaturan untuk memilih efek kedalaman saat akan
mengambil foto pun juga menjadi nilai tambah, walau tidak bisa diatur
lagi begitu foto sudah diambil.
Secara keseluruhan, hasil fotonya
memang bukan yang terbaik. Walau begitu, kamera dari Zenfone Max Pro M2
cukup bisa diandalkan di berbagai kondisi, baik itu low light maupun di
bawah terik Matahari.
Berikut beberapa hasilnya:
Opini detikINET
Walau mendapat label sebagai
ponsel gaming mainstream, nyatanya Zenfone Max Pro M2 bisa dibilang
mampu menyasar pasar yang lebih luas. Selain dapur pacu dan baterainya
yang memang mendukung untuk penggunaan gaming, kameranya juga tidak
mengecewakan.
Lebih lanjut, layar dan speakernya yang mumpuni
juga menjadi nilai tambah bagi yang gemar menonton serial atau film
dalam jangka waktu panjang. Hanya saja, butuh kesabaran memang untuk
mengisi daya dari ponsel ini.
Selain itu, pengaturan yang
tersedia tidak terlalu luas, sehingga tak banyak hal yang bisa pengguna
eksplor pada ponsel ini. Meski begitu, hal tersebut sepertinya tidak
terlalu menjadi penting jika melihat performanya yang baik.
Sumber dari : https://inet.detik.com/review-produk/d-4365249/review-asus-zenfone-max-pro-m2-gaming-mantap-kamera-oke